OPINI – Perumahan tidak hanya menjadi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga memainkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di daerah berkembang seperti Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Dalam kerangka pembangunan daerah, sektor perumahan memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap berbagai sektor, mulai dari industri bahan bangunan, jasa konstruksi, hingga penciptaan lapangan kerja lokal.
Dampak Ekonomi Pembangunan Perumahan
Menurut data Kementerian PUPR (2024), sektor konstruksi, termasuk perumahan, menyumbang sekitar 10,3% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di berbagai wilayah Indonesia. Di Kubu Raya sendiri, sektor ini tumbuh rata-rata 7% per tahun dalam lima tahun terakhir, menunjukkan kontribusi yang konsisten terhadap perekonomian lokal.
Pembangunan perumahan, terutama yang bersubsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), memberikan akses bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah layak huni. Tahun 2023, pemerintah melalui PPDPP menyalurkan subsidi pembiayaan untuk lebih dari 230.000 unit rumah di seluruh Indonesia. Di Kalimantan Barat, realisasi program FLPP mencapai lebih dari 5.800 unit – sebagian besar di kawasan pinggiran kota seperti Kubu Raya.
Dampak langsung dari pembangunan perumahan tidak berhenti pada kepemilikan rumah saja. Kehadiran pemukiman baru menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang hidup: warung, UMKM, jasa transportasi, serta peningkatan infrastruktur dasar seperti jalan dan jaringan listrik. Dengan kata lain, pembangunan perumahan berperan sebagai katalis bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Perumahan sebagai Instrumen Investasi dan Stabilitas Ekonomi
Dari sisi makroekonomi, properti adalah salah satu sektor investasi paling aman dan menjanjikan. Nilai properti cenderung meningkat seiring waktu, bahkan di daerah semi-perkotaan seperti Kubu Raya. Survei Bank Indonesia (Q4 2023) menunjukkan bahwa harga rumah tipe kecil dan menengah mengalami kenaikan rata-rata sebesar 4,25% per tahun secara nasional, dengan tren serupa terlihat di Kalimantan.
Sektor properti juga digunakan sebagai indikator kestabilan ekonomi. Ketika permintaan rumah meningkat dan serapan pasar tetap tinggi, ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Sebaliknya, stagnasi di sektor perumahan dapat menjadi sinyal penurunan daya beli atau lemahnya akses pembiayaan.
Tantangan dan Jalan ke Depan
Namun demikian, sektor ini tidak lepas dari tantangan. Kenaikan harga material bangunan akibat inflasi dan fluktuasi global membuat biaya konstruksi meningkat. Selain itu, keterbatasan lahan strategis dan kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan rumah murah memperlambat penetrasi pasar, terutama bagi MBR.
Untuk itu, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Pemerintah daerah dapat mempercepat penyediaan lahan melalui regulasi yang ramah investasi, sementara pengembang swasta dapat memperluas model pembangunan rumah berkonsep green housing yang efisien namun tetap terjangkau. Masyarakat pun didorong aktif dalam koperasi perumahan atau skema pembiayaan kolektif sebagai alternatif kepemilikan.
Perumahan sebagai Pilar Pembangunan Daerah
Sebagai generasi muda yang terlibat dalam dunia pemasaran properti, saya melihat langsung bagaimana sektor ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat fondasi ekonomi daerah. Di Kubu Raya, perumahan bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan bagian dari strategi pembangunan masa depan.
Dengan dukungan kebijakan yang inklusif dan pendekatan yang kolaboratif, sektor perumahan dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang kuat dan berkelanjutan. Mari kita wujudkan perumahan sebagai hak dasar sekaligus alat strategis dalam membangun masa depan bangsa.