Menu

Mode Gelap
Tasyakuran dan Pengesahan Warga Baru Tingkat 1 PSHT Cabang Pontianak Berlangsung Dengan Sukses Kapolda Kalbar, Pejabat Baru Tekankan Kolaborasi dan Inovasi 

Berita · 20 Mei 2025 17:36 WIB ·

Pendidikan Indonesia Mati Suri: Kontemplasi Hari Kebangkitan Nasional


					Pendidikan Indonesia Mati Suri: Kontemplasi Hari Kebangkitan Nasional Perbesar

OPINI, beritaborneo.co.id/ – Tepat hari ini pada tanggal 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional, Didirikannya Organisasi Budi Utomo oleh sekelompok mahasiswa kedokteran (STOVIA), organisasi ini tidar terlalu radikal tujuannya hanya untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Pemerintah Kolonial Belanda saat itu menyambut baik dan mengatakan bahwa budi utomo adalah hasil politik etis hindia belanda. Ini gejala awal pertama bahwa rakyat mempunyai kemauan sendiri,menolong hidupnya sendiri. Budi Utomo juga merupakan organisasi modern kalangan masyarakat pertama yang juga lahir dari Insan Akademis.

Organisasi Budi Utomo lahir ketika wilayahnya sangat sempit tersekat-sekat dan masyarakatnya mendapat tekanan dari pemerintah kolonial serta kemungkinan serangan dari pihak Belanda. Peristiwa lahirnya Organisasi Budi Utomo pada akhirnya di peringati sebagai tonggak kebangunan nasional. Pada peringatan 50 tahun Budi Utomo di Istana Merdeka, Presiden Soekarno berkata Organisasi Budi Utomo bukan hanya di lihat dari tujuan organisasinya, bukan tentang hanya kelompok mahsiswa dokter jawa saja, tapi soekarno berkata berdirinya organisasi budi utomo adalah berisi kemenangan satu azas, kemenangan satu beginsel dan menegaskan tidak ada satu bangsa yang cukup baik untuk memerintah bangsa yang lain. Dari momentum berdirinya organisasi budi utomo, maka dari saat itu merekahlah Fajar Nsionalisme.

 

Pendidikan: Kunci Kebangkitan Suatu Bangsa

Sedari awal pendidikan menjadi momentum titik balik kebangkitan nasional, bagaimana para pendiri bangsa kita sekolah dari eropa dan pulang langsung mengimplementasikan Ilmunya untuk kemerdekaan Nasional. Misalnya Muhammad Hatta dan Sutan Syahrir dari belanda, Setelah kembali ke tanah air, keduanya tidak tinggal diam. Mereka melihat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia membutuhkan arah baru: bukan sekadar retorika kemerdekaan, tapi pendidikan politik rakyat yang sistematis dan mendalam. Dari sinilah, pada tahun 1931, lahirlah Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru), yang mereka dirikan sebagai respons terhadap perbedaan strategi dengan Soekarno. Sebagaimana dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional:

“Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter), pikiran (intelek), dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya.”

Ki Hadjar Dewantar juga berkata bahwa pendidikan bertujuan Memerdekan Manusia, dan manusia merdeka menurut ki hadjar dewantara adalah selamat raganya,bahagia jiwanya.

Pendidikan sejak awal telah menjadi senjata utama dalam membangun kesadaran nasional. Para tokoh pergerakan seperti dr. Soetomo, Ki Hajar Dewantara, dan tokoh-tokoh Boedi Oetomo percaya bahwa bangsa yang terdidik adalah bangsa yang mampu menentukan nasibnya sendiri. Sayangnya, lebih dari seabad kemudian, kita masih menghadapi tantangan besar dalam dunia pendidikan.

Menurut data UNESCO dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), tingkat literasi dan numerasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional. Akses terhadap pendidikan berkualitas masih timpang, terutama antara daerah perkotaan dan pedesaan. Belum lagi persoalan ketimpangan fasilitas, kurikulum yang stagnan, dan rendahnya kesejahteraan guru di berbagai daerah.

Kebangkitan Pendidikan di Era Super Cepat Digital

Hari ini era banjirnya informasi, semua fenomena dengan cepat bisa di akses di berbagai belahan dunia. Bagaimana Pendidikan hari ini haru mampu beradaptasi dengan era yang begitu super cepat ini. Bagaimana anak-anak hari ini kurang senang dengan hal-hal yang bebrbau demgan ilmu pengetahuan

Anak-anak dan remaja masa kini tumbuh di lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka dibesarkan oleh gawai, media sosial, dan konten digital yang serba cepat dan menarik. Akibatnya, minat mereka terhadap ilmu pengetahuan yang disampaikan dengan cara tradisional semakin menurun. Proses belajar yang masih berkutat pada hafalan, metode ceramah, dan ujian berbasis angka dianggap membosankan dan tidak menyentuh realitas yang mereka alami sehari-hari. Bukan berarti mereka tidak ingin belajar, melainkan cara belajarnya yang tidak lagi sesuai dengan karakter zaman.

Sistem pendidikan konvensional sering kali tertinggal dalam merespons dinamika zaman. Peran guru masih ditempatkan sebagai pusat utama pengetahuan, padahal peserta didik bisa mengakses informasi dalam jumlah besar dari internet kapan saja. Sementara itu, sekolah belum sepenuhnya membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan dan berkembang di era digital—seperti berpikir kritis, menyaring informasi, kolaborasi, serta literasi teknologi. Oleh karena itu, transformasi pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar memindahkan kelas ke layar, tetapi juga mengubah pendekatan dan pola pikir.

Membangkitkan pendidikan artinya membangkitkan semangat belajar yang sejati. Pendidikan tidak boleh sekadar menjadi ruang untuk menguji dan menilai, melainkan juga menjadi wadah untuk mengeksplorasi, mencipta, dan berdiskusi. Guru harus hadir sebagai pendamping yang menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan hanya sebagai penyampai materi. Teknologi perlu dimanfaatkan secara kreatif untuk mendukung pembelajaran yang bermakna, bukan hanya menjadi pelengkap formalitas. Peserta didik perlu diajak memahami dunia, bukan sekadar menghafalnya.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional sepatutnya menjadi saat yang tepat untuk meninjau kembali arah pendidikan kita. Sudahkah pendidikan mampu menumbuhkan keberdayaan dan semangat belajar dalam diri generasi muda? Ataukah justru masih terjebak dalam rutinitas yang kehilangan makna? Di era yang berubah begitu cepat, kita tidak bisa berharap pada perubahan besar tanpa memulai dari pendidikan. Kita dihadapkan pada pilihan yang tegas:

membangkitkan pendidikan, atau tertinggal dalam perubahan.

Kebangkitan pendidikan tidak cukup hanya sebatas kebijakan atau pembangunan infrastruktur. Ia harus berangkat dari kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah jalan utama membentuk manusia yang tangguh, reflektif, dan siap menghadapi masa depan. Saat pendidikan bangkit dengan pendekatan yang baru dan relevan, maka kebangkitan bangsa bukan lagi angan-angan—melainkan sebuah keniscayaan.

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Wartawan

Baca Lainnya

Valen DA7 Hadir Grand Final Lanceng Praben, Pertama Offair di Kalimantan Barat 

2 April 2026 - 16:08 WIB

Valen DA7

Hadirkan Senyum di Bulan Suci, Yayasan Fawaidus Syifa Lil Qulub Pontianak Ajak 30 Anak Yatim Belanja di Mitra Anda dan Buka Puasa di Hotel

8 Maret 2026 - 15:48 WIB

Pontianak Hari Ini

Tebus Sembako Murah, Fenty Noverita: Kami Ingin Membantu Masyarakat Memperoleh Kebutuhan Pokok Terjangkau

7 Maret 2026 - 00:14 WIB

FKDM Ketapang Audiensi dengan Bupati Ketapang, Perkuat Sinergi Cegah Tangkal Dini

4 Maret 2026 - 20:26 WIB

Bupati Ketapang

Perdamaian Tanpa Korban: Mengkritisi Keputusan Indonesia Bergabung ke Board of Peace

2 Februari 2026 - 23:48 WIB

Dewi Valentin : Kerusakan Lingkungan dan Kerentanan Perempuan 

31 Desember 2025 - 20:53 WIB

Trending di Opini