Seedbacklink

Rupiah Tembus Rp17 Ribu Lebih, Pengamat Ekonomi Kalbar Nilai Tekanan Global dan Psikologi Pasar Jadi Faktor Utama

Rupiah Meroket

Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. (PEXELS/DEFRINO MAASY)

PONTIANAK. Nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menyentuh angka Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat kembali menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor ekonomi nasional. Kondisi ini bukan hanya soal kurs mata uang, melainkan juga cerminan dari tekanan global, ketergantungan impor, dan sentimen pasar yang tidak stabil.

 

Pengamat ekonomi Kalimantan Barat, Muhammad Khodri,S.M,. M.M, menilai pelemahan rupiah sangat terkait dengan teori keuangan internasional, terutama keseimbangan pasar valuta asing dan arus modal global.

 

Menurutnya, dalam teori supply and demand currency, nilai mata uang melemah ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat lebih besar dibanding permintaan terhadap rupiah. Situasi ini saat ini diperburuk oleh tingginya kebutuhan impor, pembayaran utang luar negeri, dan perpindahan investasi asing ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.

 

“Ketika investor global melihat ketidakpastian ekonomi dunia meningkat, mereka cenderung menarik modal dari negara berkembang. Akibatnya, permintaan dolar naik dan rupiah tertekan,” ujarnya, Rabu (20/5).

 

Ia menjelaskan fenomena ini juga dapat dianalisis melalui teori capital flight atau pelarian modal. Dalam kondisi suku bunga Amerika Serikat tinggi dan ekonomi global belum stabil, investor cenderung memindahkan aset ke negara dengan risiko lebih rendah.

 

Selain itu, teori purchasing power parity (PPP) atau paritas daya beli menunjukkan bahwa inflasi domestik yang lebih tinggi dibandingkan negara lain dapat membuat nilai mata uang melemah dalam jangka panjang.

 

 

Dalam konsep ini, nilai tukar (S) dipengaruhi oleh tingkat harga domestik dibandingkan harga luar negeri. Ketika inflasi dalam negeri meningkat, daya beli mata uang menurun sehingga kurs rupiah cenderung terdepresiasi.

 

Muhammad Khodri menilai dampak pelemahan rupiah akan langsung terasa pada sektor pangan, energi, dan industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Harga barang berpotensi meningkat dan menekan daya beli masyarakat.

 

“Yang paling terasa biasanya adalah kebutuhan pokok, elektronik, bahan bakar, dan biaya produksi industri. Jika berlangsung lama, inflasi bisa ikut terdorong naik,” katanya.

 

Di sisi lain, ia menyebut ada sektor yang justru mendapatkan keuntungan dari pelemahan rupiah, seperti eksportir komoditas sawit, karet, dan produk berbasis ekspor lainnya karena pendapatan mereka dalam dolar menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

 

Namun, ia mengingatkan pemerintah perlu menjaga stabilitas pasar melalui penguatan cadangan devisa, pengendalian impor non-prioritas, dan memperkuat kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.

 

Dalam teori stabilisasi moneter, ia menambahkan, kepercayaan pasar adalah faktor penting untuk menjaga nilai tukar. Ketika pasar percaya pada kebijakan pemerintah dan bank sentral, tekanan spekulatif terhadap rupiah dapat dikurangi.

 

“Stabilitas rupiah bukan hanya tugas Bank Indonesia. Ini juga berkaitan dengan kondisi fiskal, politik, perdagangan, dan psikologi pasar,” jelasnya.

 

Ia menambahkan masyarakat tidak perlu panik berlebihan, tetapi perlu meningkatkan literasi keuangan dan bijak dalam konsumsi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

 

“Pelemahan rupiah memang memberi tekanan, tetapi ini juga menjadi momentum untuk memperkuat produk lokal dan mengurangi ketergantungan impor,” tutupnya. (Red)

RajaBackLink.com