Pontianak, 15 April 2026 – IAIN Pontianak dan STAKat Negeri Pontianak Penelitian mengadakan kolaborasi penelitian dengan tema humanisme religius dengan pendanaan dari Kementerian Agama (MoRA).
Pada tanggal 9 – 11 April 2026 penelitian awal dilaksanakan di Kabupaten Sanggau. Para Peneliti disambut hangat oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sanggau dijabat oleh Mad Rais, S.Pd., S.Ag. Rais menyatakan bahwa di kabupaten Sanggau telah terbina keharmonisan antar pemeluk agama, seperti gotong royong dalam mempersiapkan hari besar atau acara keagamaan antara yang satu dengan yang lainnya.
Penelitian juga dilakukan melalui wawancara dengan anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan mereka mengungkapkan bahwa praktik toleransi beragama terbina dengan sangat baik di Kabupaten tersebut.
Prof. Zaenuddin selaku Ketua Periset, menyatakan berdasarkan hasil penelitian tersebut, bahwa warga Sanggau memandang sesama manusia memiliki martabat yang harus dihormati tanpa memandang perbedaan agama, suku, atau latar belakang.
“Tindakan ini sebagai bagian dari implementasi keyakinan yang mereka anut. Toleransi diwujudkan melalui solidaritas lintas keyakinan, kerja sama, gotong royong, bantuan kebakaran, dan penanganan bencana,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwasanya toleransi akan berdampak pada banyak bidang diantara sosial, ekonomi dan politik.
“Toleransi ini berdampak dalam berbagai bidang kehidupan diantaranya di bidang sosial, ekonomi, dan politik: keamanan stabil tanpa gejolak. Kerukunan ini tingkatkan kepercayaan investor untuk perkebunan, usaha, dan pertambangan, stabilkan ekonomi, serta perkuat budaya kepedulian seperti bantuan spontan korban bencana, sehingga rasa kekeluargaan dan saling percaya antar warga serta pemerintah semakin erat,” tambahnya.
Ketua FKUB Sanggau, Pdt. Suyono menegaskan peran tokoh agama sebagai penjaga kerukunan, moderasi, dan mengedukasi moderasi beragama, toleransi, serta pencegahan radikalisme.
Ia aktif dalam pertemuan lintas agama, dialog pemerintah, dan program sosial untuk kelompok rentan.
“Kerukunan adalah investasi masa depan Sanggau dan Indonesia, agar keberagaman jadi kekuatan, bukan konflik,” Tegasnya.
Hero selaku wakil ketua FKUB dan perwakilan dari agama katolik, menyatakan dalam perbedaan semua orang memiliki martabat yang sama dan perlu saling menghormati.
Baca juga: PC Fatayat NU Sintang adakan audiensi dengan kepala Kemenag Sintang yang baru
“Sekalipun berbeda semua orang memiliki martabat yang sama yang harus dihormati, maka sikap saling menghargai itu penting sekali.”Terang Hero.
Saukani selaku anggota FKUB menyatakan bahwa menghargai sesama manusia merupakan perintah agama. Penelitian ini menekankan pentingnya menjaga tradisi ini antargenerasi untuk citra Indonesia sebagai bangsa rukun, beragama, dan bertuhan. (*)














