Berita Analisa – Peristiwa Amerika yang melakukan penyerangan terhadap Iran secara tiba-tiba merupakan awal dari terjadinya lonjokan suku bunga dan terjadinya ketegangan geopolitik.
Di lansir dari BBC bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan Amerikan melakukan serangan terhadap negara Iran yang diantaranya pernyataan dari Donal Trump bahwa “kami akan menghancurkan rudal-rudal hingga rata ke tanah”
Secara geografis, Iran memiliki selat hormuz yang menjadi penghubung antara negara satu dan lainnya, selain itu selat hormuz merupakan daerah yang strategis terhadap alur perdagangan.
Hal ini memicu Trump untuk menguasai selat Hormuz, yang dimana Amerika merupakan negara adidaya atau negara terkuat secara global.
Lemahnya nilai rupiah dan implikasinya terhadap negara Indonesia merujuk pada tanggal 30 Juni 2026 saat Bank Indonesia mengeluarkan pernyataan bahwa harga dollar terhadap rupiah telah mencapai Rp 17.899 kemudian diperkuat oleh pernyataan dari Kementerian Keuangan bahwa harga impor dan ekspor menyentuh angka Rp 18.000.
Dalam factor eksternal yang dilihat dari melemahnya rupiah ialah adanya ketegangan konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, kemudian adanya lonjakan harga minyak mentah dan hilangnya rasa kepercayaan terhadap investor.
Melihat hal ini Bank Indonesia menaikkan suku bunga menjadi 3.50% untuk menjaga stabilitas ekonomi negara. Kemudian terjadi pelemahan system atau structural ekonomi yang mempengaruhi atau memperburuk kondisi rupiah di Indonesia.
Dampak Nyata ke Sektor Riil Per Juni 2026 Dampak BBM ke Harga Pangan:
Menurut laporan distribusi logistik pada tahun 2026, melonjaknya harga minyak mentah dunia memicu penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri. Akibatnya, biaya distribusi membengkak dan langsung mengerek harga pangan pokok (seperti beras dan bumbu dapur) di pasar domestik akibat inflasi komponen bergejolak (volatile food).
Gelombang PHK Industri: Sektor manufaktur terpukul hebat oleh imported inflation karena biaya bahan baku impor yang mahal akibat keperkasaan dolar AS. Margin laba yang tergerus memaksa pabrik-pabrik padat karya melakukan efisiensi radikal berupa PHK massal.
Kenaikan Inflasi: Pusat Statistik pada tahun 2026, kombinasi mahalnya harga barang impor dan penyesuaian biaya energi mendorong laju inflasi tahunan merangkak naik per Juni 2026, yang kian mencekik daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Ancaman Pertumbuhan Ekonomi: Melemahnya daya beli masyarakat akibat inflasi dan maraknya PHK berisiko memperlambat konsumsi rumah tangga. Mengingat konsumsi adalah motor utama PDB, pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan tertahan pada kuartal ini.
Kritik Kebijakan Langkah para pengambil kebijakan memicu kritik tajam dari para pengamat ekonomi:
Dilema Kebijakan Suku Bunga:
Kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan dinilai hanya menjadi solusi jangka pendek untuk meredam pelemahan rupiah dari level Rp17.899. Langkah ini ibarat pisau bermata dua; berhasil menahan modal keluar, namun justru menekan sektor riil karena biaya kredit dan modal kerja bagi pengusaha lokal menjadi sangat mahal.
Pemerintah Minim Mitigasi:
Pemerintah dinilai reaktif dan lambat dalam melindungi industri manufaktur sebelum badai PHK meluas. Pengamat mendesak pemerintah segera menyalurkan insentif fiskal darurat dan mengurangi ketergantungan industri pada bahan baku impor demi ketahanan ekonomi jangka panjang.
Khairunnisa Sulityoningrum
rizal wahyu
chaeldi ibra pra dika
Muhammad ramadhani
Abdul haris
Muhammad fikri
Kelompok 3
Peserta Intermediete Training (LK II) HmI Cabang Singkawang 2026











