Ngada, NTT — Peristiwa pilu terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun, berinisial YBR, ditemukan meninggal dunia. Anak yang duduk di bangku kelas IV SD tersebut diduga mengakhiri hidupnya akibat tekanan ekonomi keluarga.
Berdasarkan keterangan aparat desa, peristiwa itu diduga dipicu rasa kecewa dan putus asa korban karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena untuk keperluan sekolah. Pada malam sebelum kejadian, YBR diketahui sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli perlengkapan sekolah. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi lantaran kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, mengungkapkan bahwa ibu korban harus menanggung kebutuhan hidup lima orang anak seorang diri. Ia telah berpisah dengan ayah korban sejak sekitar 10 tahun lalu, sehingga beban ekonomi sepenuhnya ditanggung sang ibu.
“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ujar Dion Roa, Selasa (3/2), dikutip dari detikBali.
Sehari-hari, YBR tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana. Sementara itu, rumah ibu dan nenek korban berada di desa yang berbeda. Pada malam sebelum kejadian, korban menginap di rumah ibunya dengan harapan dapat dibelikan perlengkapan sekolah.
Peristiwa ini menyita perhatian masyarakat setempat dan memunculkan keprihatinan luas terkait akses pendidikan dan perlindungan anak dari keluarga kurang mampu. Sejumlah pihak menilai kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kehadiran negara dan masyarakat dalam memastikan kebutuhan dasar pendidikan anak terpenuhi, terutama bagi keluarga yang berada dalam kondisi ekonomi rentan.
Pihak berwenang setempat menyatakan masih melakukan pendalaman serta koordinasi dengan instansi terkait untuk menangani dampak sosial dari peristiwa tersebut.









