Seedbacklink

Harlah PMII ke-66: Prof. Zaenuddin Ajak Generasi Muda Rawat Harmoni dan Jadikan Pontianak Benteng Toleransi

PONTIANAK – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang ke-66, pengurus PMII Kota Pontianak menggelar acara Diskusi Wawasan Kebangsaan pada Sabtu (25/4/2026). Acara yang berlangsung di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak ini mengangkat tema “Pencegahan Radikalisme dan Intoleran, Persatuan Dalam Kebinekaan: Merawat Harmonisasi Pontianak Sebagai Kota Toleran”.

 

Diskusi ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, tokoh agama, serta perwakilan dari kepolisian. Narasumber lain juga hadir dari Kakan Kemenag Kota Pontianak H. Ruslan, MA, Satgaswil DAT 88 Kalbar Briptu M. Mursyid, SH. Salah satu sorotan utama dalam acara tersebut adalah penyampaian materi dari Prof. Dr. H. Zaenuddin, MA, selaku Majelis Pembina Daerah (Mabinda) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Kalimantan Barat. Kegiatan dibuka oleh Wakil Walikota Pontianak Bahasan, SH.

 

Dalam pemaparannya, Prof. Zaenuddin menekankan bahwa menjaga keharmonisan Kota Pontianak bukanlah tugas segelintir pihak, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.

 

“Menjaga harmoni Kota Pontianak merupakan tanggung jawab bersama yang sudah menjadi kesadaran kolektif sejak kota ini didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman AlQadrie. Oleh karena itu, tugas krusial generasi muda hari ini adalah merawat kesadaran kolektif tersebut,” ujar Prof. Zaenuddin, yang juga Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak.

 

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa Kota Pontianak memiliki modal sosial dan historis yang sangat kuat dalam merawat keberagaman. Kota ini bahkan telah dinobatkan sebagai Kawasan Konsolidasi terbaik pada Indeks Kota Toleransi oleh Setara Institute.

 

Menurut Prof. Zaenuddin, prestasi tersebut tidak lepas dari sejarah panjang stabilitas kota sejak awal berdirinya. Modal stabilitas politik serta tingkat kesadaran masyarakat yang senantiasa terjaga dengan baik menjadi pilar utama dalam mencegah benih-benih intoleransi di tengah masyarakat majemuk Pontianak.

 

Ancaman New Media dan Solusi Humanisme Religius

Meski demikian, Prof. Zaenuddin juga mengingatkan tentang tantangan era digital atau new media yang membuat upaya menjaga keharmonisan menjadi semakin kompleks. Arus informasi yang tak terbendung sering kali dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi yang memecah belah.

 

“Di era new media hari ini, tantangan harmoni Kota Pontianak semakin kompleks. Ada berbagai ancaman gerakan radikalisme transnasional yang secara masif masuk melalui internet dan media sosial,” tegasnya.

 

Sebagai solusi untuk menangkal ancaman tersebut, ia menggarisbawahi pentingnya mengedepankan nilai-nilai humanisme.

 

“Nilai humanisme perlu dikedepankan. Humanisme religius menjadi sebuah pilihan yang harus diarusutamakan saat ini,” tutup Prof. Zaenuddin.

 

Melalui peringatan Harlah PMII ke-66 ini, diharapkan seluruh kader PMII dan generasi muda Kota Pontianak secara umum dapat terus menjadi pelopor moderasi beragama dan garda terdepan dalam merawat kebinekaan di Bumi Khatulistiwa.

RajaBackLink.com