Menu

Mode Gelap
Tasyakuran dan Pengesahan Warga Baru Tingkat 1 PSHT Cabang Pontianak Berlangsung Dengan Sukses Kapolda Kalbar, Pejabat Baru Tekankan Kolaborasi dan Inovasi  How To Handle Every Movie Challenge With Ease Using These Tips 20 Questions You Should Always Ask About Playstation Before Buying It The Most Influential People in the Green House Industry and Their Celebrity Dopplegangers

Berita Borneo · 19 Des 2024 12:55 WIB ·

Hadapi Perubahan Iklim, Delapan Desa di Kapuas Hulu 


 Hadapi Perubahan Iklim, Delapan Desa di Kapuas Hulu  Perbesar

KAPUAS HULU, beritaborneo.co.id/ – Gemawan dan Aman selenggarakan Workshop Peran Pemuda dalam Mitigasi perubahan Iklim.

Bertempat di Gedung Paroki Banua Martinus Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu pada, Rabu (17/12/2024). Kegiatan dikemas dalam diskusi panel, dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman pemuda mengenai dampak perubahan iklim pada kehidupan masa kini dan masa depan.

Ketua AMAN Kalbar, Tono menyebut “Mengapa penting sekali perempuan dan pemuda? Yang pertama, kalau perempuan tentu semua aktivitas di masyarakat itu di kampung, yang punya banyak peran itu perempuan.

“Ketika tanahnya tidak ada, sudah hilang, lingkungan sudah rusak, kata Tono, pasti perempuan yang pertama yang merasakan dampaknya. Karena Perempuan semua aktivitas di rumah itu hampir semua perempuan yang melakukannya,” ujar dia.

Sementara itu, Training Learning Center Gemawan yang akrab disapa Arni, menyampaikan catatan penting dalam kegiatan tersebut, Perempuan adat sangat krusial bagi hutan, tapi menjadi korban berlapis kirisi iklim. Nah, kata Arni, ini kenapa kita ngobrolin soal Perempuan dan anak muda, kalau kita ngobrolin soal perempuan adat, dari tadi udah disingung, bahwa sebenarnya bagaimana perempuan adat itu punya peran penting dalam hal pengelolaan sumberdaya alam atau lingkungan.

“Kami masih memahami mengenai satu pengetahuan baru. Bahwa ternyata perempuan itu lebih dari 60 persen juga melakukan seluruh kegiatan peladangan, mulai dari persiapan sampai dengan panen,” jelas Arni.

Dikatan Arni, Pertanian itu adalah pengetahuan, termasuk perempuan-perempuan masyarakat adat yang memahami bahwa banyak sekali tanaman-tanaman obat di lahan kita.

Dan, sambungnya, tentu dengan kerajinan seperti penenun dan kerajinan-kerajinan lainnya seperti anyaman tikar dan lain-lain itu adalah pelestarian pengetahuan lokal. Ya, seharusnya semua orang memahami bahwa itu adalah pengetahuan yang harus kita wariskan, pungkas Arni.

Kegiatan Workshop Peran Pemuda dalam Mitigasi perubahan Iklim ini juga dihadiri oleh perwakilan Perempuan muda dari 8 desa diantaranya Banua Martinus, Batu Lintang, Rantau Prapat, Apan, Banua Ujung, Pulau Manak, Lengan Baru, dan Manua Sadap. Hadir juga undangan lainnya seperti SMA N 1 Embaloh Hulu, SMPN 3 Embaloh Hulu, OMK Paroki Martinus, dan PD AMAN Kapuas Hulu.

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Admin

Baca Lainnya

Mayat Pria Lansia Mengapung di Parit PT BPK Dikenal Warga Kuala Mandor B

25 Juli 2025 - 06:05 WIB

Remaja Parit Haji Abdurrahman lakukan Diskusi Ringan Bersama Polisi Perairan dan Udara

24 Juli 2025 - 00:50 WIB

Fenomena Aphelion 2025, Penurunan Suhu Udara di Bumi

8 Juli 2025 - 00:04 WIB

Sharing Session Kepenulisan KTI Al-Qur’an (KTIQ): Menguatkan Generasi Qurani dalam Membentuk Masyarakat Madani yang Harmonis dan Berdaya Saing

7 Juli 2025 - 17:20 WIB

Kerusakan Lingkungan: “PETI di Sungai Kapuas, Kemanusiaan dan Lingkungan Jadi Korban

27 Mei 2025 - 22:08 WIB

Ketua DPC IWAPI Kubu Raya, Fenty Noverita Hadiri Forum Internasional BRICS WBA 2025 di Rusia

22 Mei 2025 - 18:33 WIB

Trending di Berita Borneo