Seedbacklink
Berita  

Catatan Sang Penjuang: Dari Keraguan Menjadi Cahaya, Kisah Pemuda Daerah Menyalakan Semangat Aktivis

Buku Catatan Sang Penjuang

Buku Catatan Sang Penjuang
Foto: Penulis buku catatan sang pejuang M. Ramadi/DOK.

Pontianak, 14 Juli 2026 – Di balik tumpukan buku dan secangkir kopi yang sudah dingin, M. Ramadi menatap layar laptopnya dengan senyum lega. Setelah 15 bulan berkelahi dengan kata-kata, novel perdananya akhirnya terbit dengan judul “CATATAN SANG PEJUANG”.

Pria kelahiran Nanga Pinoh, Kalimantan Barat, 5 Januari 2005 ini memulai menulis novelnya pada 17 Agustus 2024 dan menyelesaikannya pada 18 November 2025. Ia terinspirasi tiga tokoh besar yang ia tulis dalam lembar persembahan: Soe Hok Gie, Pramoedya Ananta Toer, dan Pidi Baiq. Dari mereka, M.Ramadi belajar bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi berani berkata, berani bertanya, dan berani menjadi manusia.

M.Ramadi mengaku menulis novel ini karena kegelisahan melihat ketidakadilan yang ia sadari. Ia menyaksikan bagaimana orang jujur kelaparan sementara yang korup tertawa di istana, bagaimana hukum menjadi alat untuk melindungi pemilik uang, dan bagaimana rakyat kecil terbiasa diam. Melalui tokoh bernama Ram, seorang anak miskin dari pinggir sungai yang berani melawan sistem busuk, M.Ramadi ingin menyuarakan mereka yang tak pernah punya mikrofon.

Tujuan utama penulisan novel ini, kata M.Ramadi, adalah agar kejujuran tidak lagi menjadi barang langka. Ia ingin mengingatkan bahwa menulis adalah pekerjaan untuk keabadian, sebagaimana pesan Pramoedya Ananta Toer. Ia juga ingin membangunkan kesadaran bahwa diam di tengah ketidakadilan adalah bentuk keberpihakan pada kejahatan.

Sebagai manusia yang mempunyai hati nurani dan kesadaran hati, M.Ramadi menyisipkan sejumlah pesan penting dalam novelnya. Ia percaya bahwa perlawanan sejati dimulai dari keberanian berpikir, bukan dari senjata atau amarah.

Ia juga menegaskan bahwa cinta tidak melemahkan perjuangan, justru menjadi bahan bakar untuk tetap bertahan. Baginya, pejuang sejati bukan yang tak pernah kalah, melainkan yang bangkit setiap kali jatuh. Dan yang terpenting, kesadaran tidak bisa digusur meski tempat belajar dihancurkan, karena kebodohan memang bisa diprogram tetapi hati yang jujur tidak.

M.Ramadi berharap novelnya bisa menggerakkan siapa pun yang membacanya untuk tidak takut menjadi jujur. Ia menulis bukan untuk dikenang, tetapi agar suatu hari nanti seorang anak di pelosok menemukan kata-katanya dan sadar bahwa diam bukanlah satu-satunya pilihan.

Namun, buku ini tidak berhenti pada keraguan. Justru di sinilah letak kekuatannya – bagaimana keraguan itu perlahan diolah menjadi dorongan untuk terus bergerak. Pesan yang terasa kuat: bahwa merasa ragu bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari proses menjadi dewasa. (RED)

 

RajaBackLink.com