Hutan, beritaborneo.co.id – Penyempitan hutan di Provinsi Kalimantan Barat terus menjadi isu serius yang berdampak pada lingkungan, masyarakat, dan satwa liar. Data citra satelit dan laporan pemantauan terbaru menunjukkan hilangnya tutupan hutan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir akibat berbagai faktor seperti perubahan fungsi lahan, pembalakan, serta pertanian dan perkebunan skala besar.
Kalbar Masuk 3 Besar Nasional dalam Deforestasi Terluas
Menurut data dari pemantauan tutupan hutan, Provinsi Kalimantan Barat mengalami penurunan tutupan hutan yang sangat besar dari 2002 hingga 2024, dengan kehilangan sekitar 1,4 juta hektare hutan primer basah. Jumlah ini menjadikan Kalbar salah satu provinsi dengan deforestasi terluas di Indonesia dalam periode lebih dari dua dekade.
±1,4 juta ha hutan primer hilang (2002–2024). Angka tersebut setara dengan penurunan sekitar 33 % tutupan pohon di wilayah tersebut.
Hilangnya Lebih dari Separuh Hutan Kalbar Dalam Dua Dekade
Studi dari Akademisi Universitas Tanjungpura (Untan) menyebutkan bahwa dalam dua dekade terakhir, lebih dari 61 % dari tutupan hutan di Kalimantan Barat telah hilang karena alih fungsi lahan untuk pertanian, sawit, dan aktivitas lainnya.
Data 61 % hutan Kalbar hilang dalam 20 tahun terakhir. Penyebab utama adalah ekspansi lahan sawit dan konversi lahan besar‑besaran
Kebakaran Hutan & Lahan (Karhutla Mengakselerasi Hilangnya Hutan)
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa sejak awal 2026 hingga pertengahan Februari, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat telah mencapai ±435.578 hektare. Luasan ini termasuk lahan mineral dan gambut yang ikut terbakar, memperburuk kondisi kehilangan hutan alami di wilayah ini.
±435.578 ha lahan terbakar di Kalbar (Januari–Februari 2026). Sebaran titik api terjadi di 11 kabupaten/kota di Kalbar.
Penghilangan Hutan Akibat Aktivitas Industri
Organisasi pemantau lingkungan Link‑AR Borneo melaporkan penghilangan hutan alam di konsesi perusahaan sepanjang tahun 2025, yang memicu desakan kepada Kementerian Kehutanan untuk menghentikan kerusakan hutan alam. Akumulasi deforestasi di konsesi industri menjadi sorotan rakyat dan organisasi lingkungan.
Ancaman Bagi Habitat Satwa Endemik
Penyempitan hutan terus mengancam habitat spesies endemik seperti orangutan di wilayah Borneo. Laporan konservasi menyebutkan bahwa deforestasi dan fragmentasi hutan membuat satwa seperti orangutan semakin terdesak, dengan berkurangnya ruang hidup dan penyebaran habitat yang semakin terpecah.
Sekitar 26.000 orangutan Kalimantan bisa kehilangan habitat alami jika laju deforestasi berlanjut tanpa mitigasi.
Penyempitan hutan di Kalimantan Barat merupakan realitas lingkungan yang terus berlangsung dengan Penurunan tutupan hutan primer hingga ±1,4 juta hektare (2002–2024). Sedangkan Hilangnya lebih dari 61 % di area hutan selama dua dekade. Luasan karhutla mencapai ratusan ribu hektare di 2026. Ancaman ini terhadap habitat satwa liar semakin meningkat. Tantangan utama tetap pada perlindungan hutan alam, pembatasan alih fungsi lahan, dan upaya pengendalian kebakaran hutan serta penegakan hukum atas aktivitas yang merusak lanskap hutan.











