Seedbacklink

Mahasiswa SAA Gelar Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi, Soroti Isu Kemanusiaan dan Lingkungan Papua

Studi Agama-agama

IMG 20260526 145212
Deskripsi Gambar

PONTIANAK, BERITABORNEO.CO.ID -Himpunan Mahasiswa Program Studi Agama-Agama berhasil bekerja sama dengan beberapa komunitas untuk menyelenggarakan kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami berbagai masalah kemanusiaan, budaya, lingkungan, dan keadilan sosial di Papua dengan cara yang lebih kritis, akademis, dan humanis.

 

Dalam acara itu, mahasiswa Program Studi Agama-Agama melihat film dokumenter Pesta Babi tidak hanya sebagai tayangan sosial-politik. Mereka juga menilai film ini sebagai refleksi mengenai hubungan manusia dengan tanah, budaya, alam, dan nilai-nilai spiritual yang hidup di masyarakat adat Papua.

 

Film ini menunjukkan bahwa masalah pembangunan tidak dapat dipisahkan dari aspek kemanusiaan dan penghormatan terhadap identitas budaya masyarakat lokal.

 

Mahasiswa Prodi Agama-Agama merespons film itu dengan pendekatan dialogis dan teologis. Mereka berpendapat bahwa setiap agama pada dasarnya mengajarkan nilai keadilan, perdamaian, penghormatan terhadap martabat manusia, dan tanggung jawab untuk menjaga alam ciptaan Tuhan.

 

Oleh karena itu, berbagai masalah yang ditampilkan dalam film, seperti kerusakan lingkungan, hilangnya ruang hidup masyarakat adat, hingga konflik sosial, dilihat bukan hanya sebagai masalah ekonomi dan politik. Masalah-masalah ini juga berkaitan dengan aspek moral dan spiritual.

 

Dari sudut pandang teologis, film ini mengingatkan manusia tentang tanggung jawab menjaga keseimbangan kehidupan. Alam dianggap bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi bagian dari kehidupan yang memiliki nilai sakral.

 

Tradisi adat yang ditampilkan dalam film juga menunjukkan ada hubungan spiritual antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa agama dan budaya bisa berjalan berdampingan dalam menjaga harmoni kehidupan.

 

Selain itu, Program Studi Agama-Agama menilai film dokumenter ini bisa menjadi alat untuk memperkuat dialog lintas budaya dan keyakinan. Di masyarakat majemuk seperti Indonesia, pendekatan dialog penting agar perbedaan tidak menciptakan konflik, tetapi menjadi jalan untuk saling memahami dan menghargai pengalaman hidup orang lain.

 

Melalui kegiatan nobar dan diskusi ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu membangun kesadaran kritis terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan.

 

“Kampus harus menjadi ruang untuk pemikiran yang terbuka, reflektif, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan universal,” kata salah satu peserta diskusi.

 

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda diskusi film, tetapi juga upaya untuk membangun kepedulian sosial dan spiritual generasi muda terhadap realitas yang terjadi di masyarakat.

RajaBackLink.com