Narasi – Siapa pun yang sering mengirim pesan pasti pernah menerima kata-kata seperti “hiiii” atau “tungguuu”. Bagi generasi Z, obrolan adalah ruang utama untuk komunikasi sehari-hari. Masalahnya, pesan tertulis tidak membawa intonasi suara, ekspresi wajah, atau gerak tubuh seperti percakapan langsung. Untuk mengisi kekosongan itu, generasi saat ini memodifikasi ejaan, salah satunya dengan memperpanjang huruf. Kebiasaan ini sangat umum sehingga hampir tidak lagi dianggap aneh. Bahkan, hal kecil ini tidak hanya mengubah bentuk kata, tetapi juga menambahkan nuansa pada pesan.
Generasi Z tumbuh bersama gawai dan media sosial, sehingga sebagian besar interaksinya berlangsung lewat pesan singkat di aplikasi seperti WhatsApp atau Instagram, juga di kolom komentar TikTok. Di ruang-ruang itu, kecepatan dan keakraban sering lebih diutamakan daripada kaidah baku. Wajar jika muncul ragam tulis baru yang lebih ekspresif, termasuk huruf yang dipanjangkan. Sayangnya, ragam ini masih sering dinilai dari kacamata kebakuan semata, padahal fungsinya dalam interaksi belum banyak dipahami.
Formulir Perpanjangan Surat
Dari 25 chat yang saya kumpulkan, bentuk yang paling umum adalah pemanjangan vokal di akhir kata, seperti “haiii”, “apaaaa”, “aloooo”, dan “lucuuu”. Letaknya bukan kebetulan. Vokal akhir adalah bagian yang paling mudah ditahan ketika seseorang berbicara, misalnya saat menyapa atau bertanya dengan nada naik. Penulis seolah memindahkan suara yang ditarik panjang ke dalam huruf, sehingga lawan bicara seakan mendengar nadanya secara langsung.
Konsonan akhir juga dipanjangkan, seperti dalam “banyakkk”, “poolll”, “bentarrr”, dan “waitttt”. Pola ini cenderung muncul dalam kata-kata yang memiliki tekanan, seperti permintaan untuk menunggu atau penilaian jumlah yang besar. Huruf-huruf tersebut tidak lagi hanya mengeja bunyi, tetapi berfungsi seperti garis bawah atau huruf tebal dalam tulisan formal. Tanpa tanda baca tambahan, pembaca langsung menyadari bahwa kata tersebut sengaja ditekankan.
Menariknya, pemanjangan tidak selalu berhenti pada satu kata. “Kenapaa lohhh” atau “lom belii lagiii” memanjangkan beberapa kata sekaligus, seolah seluruh kalimat diucapkan dengan nada mengalun atau antusias. Namun, penulis tetap menjaga keterbacaan. Kata-katanya masih mudah dikenali, sehingga pesan tidak kehilangan makna. Ini menandakan bahwa pemanjangan dilakukan dengan sadar, bukan asal ketik.
Pandangan ini sejalan dengan Kalman dan Gergle (2014) yang melihat pengulangan huruf dalam komunikasi bermedia komputer sebagai tiruan tertulis dari perpanjangan bunyi dalam percakapan lisan. Jadi, “haiii” memang meminjam nada bicara, meski tidak setiap pemanjangan harus dimaknai demikian. Sementara itu, Darics (2013) menegaskan bahwa huruf tambahan dapat berfungsi sebagai isyarat nonverbal yang ikut mengatur suasana hubungan antara penulis dan lawan bicaranya.
Fungsi Ekspresi Digital
Lantas, apa fungsi sebenarnya? Pertama, penekanan yang lembut. “Waitttt” dan “bentarrr” tetap meminta perhatian, tetapi terdengar tidak menuntut. Kedua, ekspresi emosi. “Lohhh” menandakan heran, sedangkan “ihhh” dan “lucuuu” lebih dekat dengan rasa gemas, seperti pengganti mimik wajah yang tidak terlihat dalam chat. Ketiga, pelunak nada. Di TikTok, banyak pengguna mengaku membaca chat dengan “suara” di kepala, sehingga jawaban singkat mudah terkesan ketus. Persepsi warganet memang bukan temuan ilmiah, tetapi cukup menjelaskan mengapa “tungguuu” terasa lebih ramah daripada “tunggu”. Keempat, menciptakan kesan akrab. Obrolan seperti “sanaaa dengerinn” terdengar seperti percakapan antarteman dekat, bukan pesan yang kaku.
Fungsi-fungsi tersebut juga bergantung pada siapa lawan bicaranya. Huruf yang dipanjangkan cenderung muncul dalam obrolan dengan teman sebaya dan lebih jarang dipakai ketika mahasiswa menulis kepada dosen atau atasan. Artinya, penutur tidak memanjangkan huruf secara asal. Mereka menimbang hubungan, suasana, dan tujuan pesan terlebih dahulu. Dengan kata lain, huruf yang dipanjangkan adalah pilihan yang dibuat dengan sadar, bukan kebiasaan yang muncul tanpa pertimbangan. Kemampuan memilih ragam sesuai situasi inilah yang justru menunjukkan bahwa penutur generasi Z memiliki kepekaan berbahasa yang baik.
Variasi, Bukan Kesalahan
Bahasa tidak rusak oleh variasi, melainkan berkembang mengikuti kebutuhan penuturnya. Generasi Z memahami “haiii” tanpa perlu penjelasan, sementara penutur yang terbiasa dengan gaya formal mungkin menganggapnya berlebihan. Perbedaan itu soal konteks, bukan soal benar atau salah. Dalam ragam formal seperti surat lamaran atau tulisan ilmiah, ejaan baku tetap harus dijaga. Namun dalam obrolan santai, huruf yang dipanjangkan justru membuat tulisan terasa lebih hidup dan ramah.
Bagi dunia pendidikan, fenomena ini bisa menjadi bahan belajar yang menarik. Guru dan dosen tidak perlu melarang gaya menulis di chat, melainkan membantu siswa mengenali kapan ragam santai pantas dipakai dan kapan ragam baku wajib digunakan. Dengan begitu, literasi digital tumbuh bersama kecakapan berbahasa yang baik, dan generasi muda tidak merasa bahasa sehari-hari mereka dianggap salah. Pemahaman seperti ini jauh lebih bermanfaat daripada sekadar menilai satu gaya menulis sebagai benar atau salah.
Pada akhirnya, pemanjangan kata dalam chat bukanlah kesalahan ejaan, melainkan strategi komunikasi generasi Z untuk menghadirkan nada suara dan perasaan ke dalam tulisan. Bentuknya beragam, mulai dari pemanjangan vokal dan
konsonan akhir hingga beberapa kata sekaligus, dan fungsinya mencakup penekanan, ekspresi emosi, pelunak nada, serta penciptaan kesan akrab. Karena itu, lain kali menerima pesan berhuruf panjang, tidak perlu heran. Barangkali pengirimnya hanya sedang berusaha menyampaikan senyum dan nada suaranya lewat huruf.




