Opini  

Menjawab Tantangan Generasi Muda di Daerah Perbatasan

Foto: Adimas Nuur Syaifullah, S.Sos (Tokoh Pemuda Kabupaten Sambas)/Ist
Deskripsi Gambar

SAMBAS, BERITABORNEO.CO.ID Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi teknologi masa depan. Ia sudah hadir dalam pendidikan, pekerjaan, bisnis, media, dan kehidupan sehari-hari.

 

Sebagai daerah perbatasan Indonesia–Malaysia, Kabupaten Sambas tidak boleh hanya menjadi penonton dari perubahan tersebut. Pertanyaan pentingnya adalah: sejauh mana generasi muda Sambas mampu mengubah AI menjadi pengetahuan, karya, dan solusi bagi daerahnya?

 

Saya melihat peluang itu sangat terbuka.

 

Temajuk, misalnya, memiliki potensi wisata yang besar. AI dapat dimanfaatkan anak muda untuk membuat strategi promosi digital, menghasilkan konten multibahasa, menyusun informasi destinasi, hingga membantu pelaku usaha lokal menjangkau wisatawan dari luar daerah.

 

Di kawasan Sajingan Besar dan Aruk, posisi strategis perbatasan juga dapat diterjemahkan menjadi peluang ekonomi. Anak muda dapat membantu UMKM meningkatkan katalog digital, menerjemahkan materi promosi, membaca tren pasar, dan memperluas pemasaran produk lokal.

 

Begitu pula sektor pertanian dan perkebunan. Anak muda yang memiliki kemampuan teknologi dapat menjadi penghubung antara informasi digital dan kebutuhan petani—mulai dari pencatatan usaha, pengolahan data sederhana, hingga strategi pemasaran hasil produksi.

 

Potensi budaya juga tidak kalah penting. Kain tenun, kuliner, tradisi, sejarah Kesultanan Sambas, dan cerita masyarakat merupakan kekayaan yang perlu didokumentasikan dan dikemas dengan pendekatan zaman. Teknologi dapat membantu memperkenalkannya kepada generasi muda dan masyarakat yang lebih luas.

 

Di sinilah menurut saya letak persoalannya. Kita tidak cukup hanya belajar menggunakan AI untuk membuat tulisan, gambar, atau menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Kita perlu mulai melihat teknologi sebagai alat untuk memecahkan persoalan nyata di sekitar kita.

 

Pendidikan dan perguruan tinggi di Kabupaten Sambas mempunyai peran penting dalam proses ini. Kita membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga mampu berpikir kritis, membaca kebutuhan masyarakat, menguasai teknologi, dan melahirkan gagasan yang dapat diterapkan.

 

Sebab ketika informasi semakin mudah diperoleh, nilai seseorang tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang ia ketahui, tetapi oleh kemampuannya mengolah pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat.

 

Saya percaya, perubahan tidak harus menunggu datang dari Pontianak, Jakarta, atau pusat-pusat teknologi. Ia dapat dimulai dari kampus, desa, komunitas, UMKM, dan anak-anak muda yang melihat persoalan di sekitarnya sebagai peluang untuk berbuat sesuatu.

 

Bagi saya, pendidikan juga bukan garis akhir. Gelar sarjana seharusnya membawa pertanyaan yang lebih besar:

 

Apa yang bisa saya berikan kepada daerah dengan pengetahuan yang saya miliki?

 

AI akan terus berkembang. Teknologi akan terus berubah. Yang perlu dipastikan adalah generasi muda Kabupaten Sambas memiliki kapasitas untuk ikut menentukan arah perubahan tersebut.

 

Karena masa depan perbatasan bukan hanya tentang bagaimana kita mengikuti perkembangan zaman, tetapi tentang seberapa berani kita menciptakan nilai dari potensi yang kita miliki.

 

Dari Kabupaten Sambas, generasi muda perbatasan harus mampu menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukan batas bagi lahirnya gagasan dan inovasi.

seedbacklink