KETAPANG — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum istimewa bagi tumbuhnya budaya literasi di Pondok Pesantren Al-Jihad Ketapang. Di tengah kegiatan Pelantikan Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU dan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) I, Kamis (22/10/2026), dua santriwati mempersembahkan karya tulis mereka sebagai cinderamata kepada Ketua Yayasan Islamiyah Al-Jihad Ketapang dan Ketua MWCNU Kecamatan Benua Kayong.
Kedua karya tersebut merupakan bagian dari *Mahakarya Literasi Santriwati Pondok Pesantren Al-Jihad Ketapang*. Karya pertama berjudul *“Titik Aksara: Merangkai Rasa dalam Untaian Kata”* ditulis oleh Intan Aulia, siswi kelas X SMA Al-Jihad Ketapang. Karya kedua, *“Jejak Langkah Seorang Santriwati: Sebuah Kisah tentang Perjuangan, Kesabaran, dan Mimpi yang Tak Pernah Padam”*, ditulis oleh Riyani, siswi kelas XI SMA Al-Jihad Ketapang.
Keduanya didampingi oleh Muhammad Irpan MA. mahasiswa STAI Al-Haudl Ketapang yang merupakan peraih penghargaan Penulis Terbaik Nasional.
Penyerahan karya kepada Ketua Yayasan Islamiyah Al-Jihad Ketapang, KH. Satuki Huddin, dan Ketua MWCNU Kecamatan Benua Kayong, Kyai Fahri Husaini, bukan sekadar seremoni. Momen tersebut menjadi simbol bahwa santri juga memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan, mengembangkan kreativitas, dan meninggalkan jejak melalui tulisan.
*Intan Aulia: Menemukan Keberanian Lewat Kata*
Bagi Intan Aulia, menulis menjadi ruang untuk menuangkan perasaan dan merangkai pengalaman ke dalam kata-kata. Melalui *Titik Aksara*, ia mengangkat semangat bahwa setiap kata dapat menjadi awal dari sebuah perjalanan, sementara setiap tulisan menyimpan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu yang bermakna.
“Bagi saya, menulis bukan hanya tentang menyusun kata-kata, tetapi juga tentang belajar memahami apa yang ingin disampaikan. Saya berharap karya ini menjadi langkah awal untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan menulis. Semoga apa yang saya tulis bisa memberikan inspirasi bagi teman-teman, khususnya sesama santriwati, agar berani mencoba dan tidak takut memulai,” harapnya
Judul *Titik Aksara* juga membawa pesan bahwa sebuah karya besar dapat bermula dari langkah kecil. Keberanian memulai, kemauan belajar, dan kesediaan menerima masukan merupakan bagian penting dari proses seorang penulis muda.
*Riyani: Menulis Perjuangan, Menjaga Harapan*
Berbeda dengan Intan, Riyani melalui *Jejak Langkah Seorang Santriwati* mengangkat tema perjuangan, kesabaran, dan mimpi yang tidak boleh padam. Judul tersebut menggambarkan perjalanan seorang santriwati dalam menjalani pendidikan dan menatap masa depan dengan harapan.
“Saya ingin menyampaikan bahwa setiap perjalanan memiliki tantangan, tetapi kita tidak boleh berhenti bermimpi. Menjadi santriwati mengajarkan saya tentang kesabaran, kedisiplinan, dan pentingnya terus belajar. Saya berharap tulisan ini dapat menguatkan teman-teman agar tetap semangat mengejar cita-cita, meskipun harus melewati proses yang tidak selalu mudah,” tuturnya
Melalui karya tersebut, Riyani diharapkan dapat mengajak pembaca melihat bahwa kehidupan santri tidak hanya berisi kegiatan belajar agama, tetapi juga proses pembentukan karakter, pengembangan potensi, dan persiapan untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
Sementara itu Muhammad Irpan mengungkapkan Santri Harus Berani Berkarya, Bukan Sekadar Membaca
Sebagai mentor, Muhammad Irpan MA berperan mendampingi proses pengembangan kemampuan menulis kedua santriwati tersebut. Pengalaman dan prestasinya di bidang kepenulisan menjadi salah satu bekal dalam memberikan arahan agar para santri berani mengembangkan ide dan menuangkannya menjadi karya.
“Santri memiliki banyak pengalaman, pemikiran, dan cerita yang layak dituliskan. Tantangannya adalah bagaimana membangun keberanian untuk memulai, melatih konsistensi, dan menyelesaikan tulisan. Saya berharap Intan dan Riyani tidak berhenti pada dua karya ini, tetapi terus belajar, membaca, menulis, dan mengembangkan kualitas karyanya,” pesannya
Ia juga menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan merangkai kalimat, melainkan sarana untuk melatih cara berpikir, memperluas wawasan, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Menurutnya, pesantren memiliki peluang besar untuk membangun budaya literasi yang berjalan beriringan dengan pendidikan agama. Santri dapat memperkuat tradisi keilmuan sekaligus mengembangkan kemampuan menulis, berpikir kritis, dan memanfaatkan teknologi secara bijaksana.
Cinderamata yang Menjadi Awal Gerakan Literasi
Penyerahan kedua karya dalam momentum Pelantikan IPNU-IPPNU dan Makesta I memperlihatkan bahwa pengembangan kader muda dapat berjalan berdampingan dengan penguatan literasi. Kaderisasi tidak hanya membentuk kemampuan berorganisasi, tetapi juga membuka kesempatan bagi pelajar untuk menghasilkan karya dan menyampaikan gagasan.
Di tengah peringatan Hari Santri Nasional 2026, karya Intan dan Riyani menjadi pengingat bahwa santri dapat mengambil peran melalui berbagai jalan: belajar, berorganisasi, mengabdi, dan menulis.
Dari *Titik Aksara* hingga *Jejak Langkah Seorang Santriwati*, keduanya membawa semangat untuk terus tumbuh melalui proses. Sebab, karya tulis bukan hanya tentang halaman yang selesai ditulis, melainkan juga gagasan, pengalaman, dan harapan yang dapat dibagikan kepada orang lain.
Harapannya, persembahan dua santriwati ini menjadi pemantik tumbuhnya gerakan literasi di Pondok Pesantren Al-Jihad Ketapang, sehingga semakin banyak santri berani menulis, menerbitkan karya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat melalui ilmu serta kreativitasnya.














