Sanggau, 9-11 Oktober 2026 Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUSHA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menyelenggarakan kegiatan Research Camp di Desa Tae, Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa SAA semester 5 dan bertujuan memperkuat budaya riset, meningkatkan kemampuan pengkajian lapangan, serta mengembangkan gagasan penelitian yang berakar pada realitas sosial-budaya keagamaan masyarakat.
Pemilihan Desa Tae sebagai lokasi Research Camp memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengamati secara langsung kehidupan masyarakat, dinamika keagamaan, serta potensi sosial-budaya di wilayah pedesaan Kabupaten Sanggau.
Selama tiga hari, peserta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari orientasi lapangan, observasi masyarakat, diskusi, hingga pendampingan penyusunan dalam rencana penelitian. Mahasiswa juga diberikan ruang untuk berdialog langsung dengan masyarakat setempat guna memperoleh gambaran awal mengenai isu-isu yang dapat dikaji lebih lanjut.
Masyarakat Hukum Adat Dayak Tae adalah masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang terbagi ke dalam 8 dusun, yaitu: Bangkan, Mak Ijing, Tae, Teradak, Padang, Semangkar, Padikaye, dan Maet. Kedelapan dusun tersebut tergabung ke dalam Desa dan Ketemenggungan Tae. Dahulu kala, kedelapan dusun itu adalah tembawang (tempat pemukiman masyarakat yang ditumbuhi tanaman liar, yang menopang kebutuhan sehari-hari mereka).
Dalam kegiatan ini, mahasiswa didampingi oleh Elmansyah selaku dosen pembimbing dalam kegiatan tersebut. Ia mengatakan “Kegiatan ini pada dasarnya merupakan implementasi dari kurikulum OBE pada mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa SAA. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dihadapkan langsung ke narasumber di lapangan, untuk mengumpulkan data, lalu menuliskannya. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat diterbitkan artikel kecil tentang apa yang diperoleh dari lapangan, yang kemudian akan dirangkum dalam sebuah buku bunga rampai. SAA, selama ini berdiri di dua pilar utama, yaitu: Agama dan Budaya. Sangat cocok bersinergi dengan Desa Tae, karena di dalamnya terdapat budaya yang khas, agama dan kepercayaan lokal.”
Selain itu, Elmansyah juga memberikan arahan mengenai teknik observasi, pedoman wawancara, penyusunan latar belakang, serta rumusan masalah yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Kemudian salah satu mahasiswa, Yasinta Rohmawati menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman berharga. “Selama berada di Desa Tae, saya mendapatkan banyak pelajaran, terutama tentang bagaimana masyarakat masih sangat menjaga dan menjunjung tinggi adat istiadatnya. Hal ini membuat saya lebih memahami bahwa ketika kita berkunjung ke suatu daerah, kita harus menghormati aturan, kebiasaan, dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat tersebut. Jadi, bukan hanya datang untuk melakukan penelitian, tetapi juga belajar memahami dan menghargai budaya setempat. karena menurut saya, belajar secara langsung di tengah masyarakat memberikan pengalaman dan pemahaman yang berbeda dibandingkan hanya belajar di dalam kelas,” ujarnya.
Melalui Research Camp ini, Program Studi Studi Agama Agama berharap mahasiswa semakin terampil dalam melakukan penelitian lapangan, peka terhadap isu sosial keagamaan, dan mampu menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat. Kegiatan ini juga diharapkan mempererat hubungan antara mahasiswa, program studi, dan masyarakat Desa Tae, serta menjadi langkah awal bagi lahirnya penelitian-penelitian mahasiswa yang berkualitas dan mampu berkontribusi dalam kajian agama, budaya serta masyarakat.








