PONTIANAK – Perjalanan Yusuf di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Syarif Abdurrahman Pontianak memasuki babak baru. Setelah 14 tahun mengabdi dan menjalankan berbagai tugas di lingkungan kampus, ia kini dipercaya memimpin STIS Syarif Abdurrahman untuk periode 2026–2030.
Yusuf resmi dilantik sebagai Ketua STIS Syarif Abdurrahman dalam prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan yang berlangsung Selasa (18/8/2026). Pelantikan dipimpin Ketua Yayasan Al Madani Syarif Abdurrahman, M. Husain Hamzah.
Penetapan Yusuf sebagai ketua merupakan hasil rapat senat yang digelar pada 6 Agustus 2026.
Sebelum menduduki posisi sebagai ketua, Yusuf melewati perjalanan panjang di lingkungan STIS Syarif Abdurrahman. Ia pertama kali bergabung sebagai dosen dan tenaga pengajar tanpa jabatan struktural.
“Saya 14 tahun yang lalu melangkahkan kaki ke kampus STIS Syarif Abdurrahman sebagai dosen dan tenaga pengajar tanpa jabatan apa pun. Bahkan saya mengawali karier sebagai asisten dosen,” ungkap Yusuf.
Dari posisi tersebut, tanggung jawab yang diembannya terus berkembang. Yusuf kemudian dipercaya menjadi operator, sekretaris program studi, ketua program studi hingga Wakil Ketua I.
“Sepanjang perjalanan waktu saya pernah sebagai operator, sekretaris prodi, ketua prodi, lalu wakil ketua satu dan hari ini Allah menakdirkan saya sebagai Ketua STIS Syarif Abdurrahman,” tuturnya.
Pengalaman selama lebih dari satu dekade tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Yusuf hingga akhirnya dipercaya memimpin institusi yang telah menjadi tempatnya mengabdi selama 14 tahun.
Bagi Yusuf, perjalanan panjang di STIS Syarif Abdurrahman tidak hanya berkaitan dengan jenjang karier. Selama berada di kampus tersebut, ia juga mendapatkan pengalaman dan pembelajaran mengenai arti sebuah jabatan dan pengabdian.
Ia memandang jabatan sebagai amanah yang memiliki batas waktu, sedangkan pengabdian kepada institusi harus terus dilanjutkan.
“Jabatan selalu datang dan pergi, tetapi khidmat dan pengabdian kekal dan abadi,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar Yusuf dalam menjalankan kepemimpinannya. Ia menyadari posisi sebagai ketua membawa tanggung jawab terhadap hampir 500 mahasiswa serta seluruh sivitas akademika STIS Syarif Abdurrahman.
Karena itu, Yusuf tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang paling sempurna untuk memimpin kampus. Ia justru meminta dukungan sekaligus koreksi dari seluruh pihak.
“Saya hari ini bukan yang terbaik. Jika saya berbuat baik, maka tolong bantu saya. Tetapi jika saya keliru, jangan pernah ragu untuk meluruskan saya,” ujarnya.
Di bawah kepemimpinannya, Yusuf membawa salah satu agenda besar, yakni mendorong transformasi STIS Syarif Abdurrahman menjadi Institut Agama Islam (IAI) Syarif Abdurrahman.
Bagi Yusuf, transformasi tersebut bukan sekadar perubahan bentuk kelembagaan. Ia ingin perubahan tersebut membawa pergeseran orientasi dalam menjalankan fungsi pendidikan di kampus.
“Ini perubahan haluan dari tempat mengajar menjadi tempat menumbuhkan,” tegasnya.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari cita-cita Yusuf selama memimpin STIS Syarif Abdurrahman. Ia ingin kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan dan mengembangkan mahasiswa.
Untuk mewujudkannya, Yusuf menekankan pentingnya kolaborasi dan integrasi seluruh unsur yang berada di lingkungan kampus.
Yusuf juga membawa pandangan tersendiri mengenai posisi seorang pemimpin. Menurutnya, jabatan tidak seharusnya menjadi simbol status yang membuat seorang pemimpin berjarak dengan orang-orang yang dipimpinnya.
Sebaliknya, jabatan harus digunakan untuk memberikan manfaat dan memudahkan orang lain.
“Saya belajar jabatan bukan tangga untuk naik, tetapi tangga untuk turun mendekat kepada mahasiswa,” pungkasnya.
Kepemimpinan Yusuf periode 2026–2030 pun dimulai dengan dua agenda besar: melanjutkan pengabdian yang telah ia jalani selama 14 tahun sekaligus membawa STIS Syarif Abdurrahman menuju cita-cita transformasi menjadi IAI Syarif Abdurrahman.*















