Seedbacklink
Seedbacklink
Berita  

Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Upaya Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kapuas Hulu

Deskripsi Gambar

Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, 4 Agustus 2026 – Sekitar 130 perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Manggala Agni, UPT KPH Kapuas Hulu Selatan, pemerintah desa, dan masyarakat setempat berkumpul di GOR Penepian Raya untuk memperkuat kolaborasi dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam kegiatan tersebut, PT Sempinur Bunga Energi (PT SBE) menyerahkan peralatan pencegahan dan pemadaman karhutla kepada tim Desa Makmur Peduli Api (DMPA) dari Desa Ujung Said, Penepian Raya, dan Bunut Hulu. Kegiatan ini juga mencakup penandatanganan komitmen bersama untuk memperkuat pencegahan karhutla, serta rencana pembangunan menara pantau api berbasis CCTV bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Bunga Lestari.

Sukardi, S.M., Wakil Bupati Kapuas Hulu, menekankan bahwa pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama karena kebakaran dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, mata pencaharian, lingkungan, dan perekonomian daerah.

“Pencegahan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat ditangani oleh satu lembaga atau satu desa saja. Dibutuhkan kerja sama antara masyarakat, pemerintah desa, instansi kehutanan, Manggala Agni, perusahaan, dan para pemangku kepentingan lainnya. Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu menyambut baik berbagai inisiatif yang memperkuat kesiapsiagaan dan koordinasi di tingkat desa, karena cara terbaik untuk menangani kebakaran adalah dengan melakukan persiapan sebelum kondisi darurat terjadi,” ujar Sukardi.

Bantuan peralatan yang diserahkan mencakup enam set pompa air lengkap, yang terdiri atas tiga pompa jinjing dan tiga pompa apung. Masing-masing dari ketiga tim desa menerima satu pompa jinjing dan satu pompa apung. Bantuan tersebut juga mencakup sedikitnya 23 set perlengkapan pemadam kebakaran untuk personel.

Peralatan ini akan mendukung kegiatan patroli masyarakat, deteksi dini, dan penanganan awal, terutama ketika titik api masih kecil dan dapat dikendalikan sebelum meluas. Rencana pembangunan menara pantau api akan melengkapi dukungan peralatan tersebut dengan memberikan jangkauan pandang yang lebih luas terhadap wilayah sekitar. Dengan demikian, tim masyarakat dapat mendeteksi asap dan tanda-tanda kebakaran lainnya dengan lebih cepat, khususnya pada saat cuaca kering.

Laurensius, S.E., Kepala UPT KPH Kapuas Hulu Selatan, menyoroti pentingnya memastikan agar peralatan dan sarana pemantauan menjadi bagian dari sistem pencegahan karhutla yang lebih luas.

“Peralatan dan sarana pemantauan perlu didukung oleh patroli rutin, prosedur pelaporan yang jelas, serta koordinasi antara pemerintah desa, KPH, Manggala Agni, dan pemangku kepentingan terkait lainnya. Dengan demikian, informasi dari lapangan dapat disampaikan dengan cepat dan tindakan dapat segera dilakukan ketika api masih dalam skala kecil,” tutur Laurensius.

Inisiatif ini merupakan bagian dari Borneo Revive, sebuah proyek konservasi dan restorasi lahan gambut jangka panjang yang dilaksanakan oleh PT SBE di Kapuas Hulu, dalam bentang alam Heart of Borneo. Mencakup lebih dari 48.000 hektare kawasan hutan tropis yang sebagian besar merupakan lahan gambut, proyek ini bertujuan melindungi hutan yang tersisa dan gambut dalam, memulihkan kawasan yang terdegradasi, serta bekerja sama dengan masyarakat sekitar.

Kegiatan Borneo Revive menggabungkan upaya pencegahan kebakaran dengan pemantauan tinggi muka air, pembangunan sekat kanal, patroli hutan dan batas kawasan, pemantauan keanekaragaman hayati, restorasi, serta penanaman kembali di kawasan yang terdegradasi.

Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar di bawah permukaan tanah. Namun, ketika mengering, gambut dapat dengan mudah terbakar. Kebakaran gambut juga dapat merambat di bawah permukaan sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.

Oleh karena itu, menjaga kondisi gambut agar tetap basah, melakukan patroli rutin, serta memastikan kesiapan desa untuk bertindak merupakan bagian penting dari pencegahan karhutla. Kawasan proyek ini juga menjadi habitat hutan rawa gambut tropis dataran rendah dan berbagai jenis satwa serta tumbuhan, seperti orangutan Kalimantan, burung rangkong, beruang madu, ikan arwana, dan kantong semar.

Sekitar 28.000 orang tinggal di 33 desa yang berada dalam radius lima kilometer dari kawasan proyek. Borneo Revive bekerja bersama masyarakat melalui pembentukan dan penguatan tim pemadam kebakaran desa, kegiatan patroli, pemantauan, serta penyediaan peluang kerja bagi masyarakat setempat.

Syamsul Fikar, Head of Community Engagement PT SBE, menjelaskan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam inisiatif ini karena memahami kondisi bentang alam sekitar dan sering kali menjadi pihak pertama yang mengetahui adanya perubahan kondisi di lapangan.

“Masyarakat memahami lingkungan setempat, jalur akses, dan kondisi di sekitar desa mereka. Melalui inisiatif ini, kami mendukung masyarakat dengan peralatan dan sarana pemantauan, sekaligus memperkuat koordinasi dengan pihak-pihak berwenang. Perlindungan hutan dan lahan gambut dalam jangka panjang hanya dapat berhasil apabila masyarakat dilibatkan sebagai mitra aktif,” jelas Syamsul.

Inisiatif ini juga mendukung sasaran iklim dan kehutanan Indonesia yang lebih luas, termasuk agenda nasional Forestry and Other Land Use Net Sink 2030, serta upaya daerah dalam melindungi lahan gambut dan mengurangi risiko karhutla.

Penyerahan peralatan, penandatanganan komitmen bersama, dan rencana pembangunan menara pantau api merupakan bagian dari upaya bersama untuk membantu masyarakat mengenali risiko lebih awal, menyampaikan informasi dengan lebih cepat, serta melakukan penanganan secara aman. Pencegahan karhutla perlu dimulai melalui kesiapan, patroli rutin, dan kolaborasi yang berkelanjutan sebelum kondisi darurat terjadi. ***

seedbacklink