Ketapang — Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang menetapkan status kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi tanggap bencana pada Rabu (2/9/2026). Penetapan tersebut menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat untuk turut memperkuat kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat yang terdampak. Merespons kondisi tersebut, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ketapang bersama sejumlah Badan Otonom Nahdlatul Ulama (Banom NU) dan Aliansi Pemuda Ketapang melanjutkan aksi kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan logistik serta membagikan masker kepada masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Ketapang. Aksi tersebut dilaksanakan pada 7–8 September 2026, dengan menyasar sejumlah titik yang terdampak karhutla maupun wilayah yang masyarakatnya masih beraktivitas di tengah kondisi kabut asap. Ketua PC PMII Ketapang, Firmansyah, mengatakan bantuan logistik dalam kegiatan tersebut secara khusus menyasar Komunitas The Power of Mama (TPOM), komunitas binaan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang yang selama ini aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan dan perlindungan hutan desa. “Pendistribusian logistik dan pembagian masker ini kami laksanakan pada 7–8 September 2026. Untuk bantuan logistik, kami menyasar Komunitas The Power of Mama atau TPOM yang merupakan komunitas binaan YIARI Ketapang,” kata Firmansyah. Menurutnya, TPOM merupakan komunitas yang beranggotakan perempuan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta turut mengambil peran dalam menjaga hutan desa dan lingkungan di wilayahnya. “Komunitas ini berisikan perempuan-perempuan tangguh dan peduli terhadap lingkungan yang menjadi salah satu garda terdepan dalam menjaga hutan desa. Karena itu, kami merasa penting untuk memberikan dukungan kepada mereka, terutama dalam kondisi karhutla seperti saat ini,” ujarnya. Bantuan logistik tersebut didistribusikan ke tiga titik, yakni Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara; Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan; dan Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan. Selain penyaluran logistik, tim juga membagikan masker kepada masyarakat di Pasar Sore Desa Paya Kumang, Kecamatan Delta Pawan. Pembagian tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla. Aksi ini menjadi kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilakukan PMII Ketapang bersama sejumlah Banom NU Ketapang dengan membagikan masker kepada pengendara di kawasan Perempatan Agropolitan, Desa Sungai Pelang, pada 31 Agustus 2026. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa respons terhadap dampak karhutla tidak hanya dilakukan melalui penanganan di tingkat pemerintahan, tetapi juga melalui keterlibatan organisasi kepemudaan, mahasiswa, komunitas lingkungan, dan kelompok masyarakat. Ketua Lingkar Visioner, Arrijal Firmansyah, yang turut terlibat dalam kegiatan tersebut, mengatakan meningkatnya status karhutla menjadi tanggap bencana membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, penanganan bencana beserta dampaknya tidak hanya membutuhkan respons pemerintah, tetapi juga partisipasi masyarakat dan berbagai kelompok sosial untuk membantu mengurangi dampak yang dirasakan warga. “Karhutla bukan hanya persoalan kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga menyangkut keselamatan, kesehatan, lingkungan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Karena itu, kami melihat pentingnya kolaborasi lintas elemen untuk bersama-sama merespons dampak yang ditimbulkan,” ujar Arrijal. Ia berharap bantuan yang disalurkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan komunitas yang terdampak. Menurutnya, kolaborasi lintas organisasi dan komunitas juga perlu terus diperkuat selama kondisi karhutla masih menjadi ancaman….