PONTIANAK — Sebuah kata dapat menyampaikan pesan. Namun, tidak semua pesan lahir dari kata-kata.
Tatapan mata, ekspresi wajah, gerak tubuh, hingga intonasi suara sering kali berbicara lebih jauh daripada kalimat yang diucapkan. Di titik inilah komunikasi verbal dan nonverbal menjadi bagian penting yang perlu dipahami oleh seorang instruktur.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Senior Course yang diselenggarakan oleh BPL HMI Cabang Pontianak.
Para calon Master of Training diajak memahami bahwa kemampuan berkomunikasi bukan sekadar persoalan berbicara di depan forum, melainkan bagaimana sebuah pesan dibangun, disampaikan, dan diterima oleh peserta.
Sesi ini menghadirkan Ayunda Hayatunnur Taqwa sebagai narasumber. Dengan pengalaman di berbagai ruang organisasi pada kancah regional maupun nasional, Ayunda membagikan perspektifnya mengenai pentingnya komunikasi dalam proses pembelajaran dan pengkaderan.
Menurut perspektif yang dibangun dalam materi tersebut, komunikasi verbal menjadi fondasi dalam menyampaikan gagasan. Pemilihan kata, artikulasi, intonasi, struktur penyampaian, hingga kemampuan membangun dialog menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari seorang instruktur.
Namun, ada sisi lain yang kerap luput dari perhatian.
Ketika seorang instruktur berbicara, peserta tidak hanya mendengarkan apa yang keluar dari mulut, tetapi juga membaca apa yang ditunjukkan oleh tubuh.
Kontak mata dapat membangun perhatian. Ekspresi dapat memperkuat pesan. Gestur dapat memberikan penekanan. Bahkan sikap tubuh dapat memberikan kesan tertentu sebelum sebuah kalimat selesai disampaikan.
Karena itu, komunikasi nonverbal menjadi pasangan penting bagi komunikasi verbal. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipadukan agar pesan yang disampaikan seorang instruktur menjadi lebih utuh dan efektif.
Dalam suasana yang santai namun tetap interaktif, Ayunda mengajak para calon Master of Training untuk melihat komunikasi dari sudut pandang yang lebih luas. Bukan hanya tentang seberapa banyak seseorang mampu berbicara, tetapi seberapa efektif ia mampu membuat orang lain memahami pesan yang disampaikan.
Pengalaman Ayunda di berbagai forum regional maupun nasional menjadi bagian dari perspektif yang dibagikan dalam sesi tersebut. Terlebih, saat ini Ayunda Hayatunnur Taqwa juga dipercaya sebagai Wakil MW KAHMI Kalimantan Barat, yang turut memperkaya pengalaman dalam ruang organisasi dan kepemimpinan.
Bagi seorang calon Master of Training, kemampuan komunikasi pada akhirnya bukan sekadar keterampilan pendukung. Ia menjadi instrumen utama dalam membangun suasana belajar, menciptakan interaksi, menjaga perhatian peserta, dan memastikan pesan dapat diterima dengan baik.
Sebab dalam sebuah ruang pelatihan, terkadang yang paling diingat bukan hanya apa yang dikatakan seorang instruktur, tetapi bagaimana ia membuat peserta merasa didengar, dipahami, dan dilibatkan.
Senior Course BPL HMI Cabang Pontianak pun menjadi ruang pembelajaran bagi para calon Master of Training untuk mengasah kemampuan tersebut.
Di balik sebuah kata, ada pesan.
Di balik sebuah tatapan, ada makna.
Dan di balik keduanya, terdapat kemampuan seorang instruktur untuk mengubah komunikasi menjadi proses pembelajaran yang hidup dan bermakna.
#logistikMengalahkanLogika










