Pontianak, 28 Oktober 2026 Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 98, mahasiswa Katolik dari enam perguruan tinggi di Kota Pontianak menyelenggarakan kegiatan pembacaan teks Sumpah Pemuda dalam 40 bahasa daerah di Gereja Katolik Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pontianak atau Gereja Pancasila, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen generasi muda dalam merawat kebhinekaan, memperkuat persatuan bangsa, dan melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas Indonesia.Kegiatan ini mengangkat semangat persatuan dalam keberagaman melalui pembacaan ikrar kebangsaan menggunakan berbagai bahasa daerah. Inisiatif tersebut juga diproyeksikan untuk diajukan dalam pencatatan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), dengan tetap mengikuti persyaratan dan proses verifikasi yang ditetapkan oleh pihak MURI.
Menghidupkan Kembali Semangat Sumpah Pemuda
Ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai kenangan sejarah, tetapi harus terus dihidupi dan diwujudkan melalui tindakan nyata oleh generasi muda.
“Sumpah Pemuda mengajarkan kita bahwa persatuan tidak berarti menghapus perbedaan. Kita boleh berbicara dalam bahasa daerah yang berbeda, memiliki tradisi yang beragam, dan berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, tetapi kita tetap satu sebagai bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Oleh karena itu, pembacaan Sumpah Pemuda dalam 40 bahasa daerah diharapkan menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap Indonesia dapat diwujudkan dengan menghargai dan melestarikan kekayaan bahasa yang dimiliki bangsa ini.
Kolaborasi Mahasiswa Lintas Perguruan Tinggi
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa Katolik dari enam perguruan tinggi di Kota Pontianak yang berkolaborasi dalam semangat kebangsaan, persaudaraan, dan pelestarian budaya. Adapun 6 perguruan tinggi tersebut adalah (AKUB, UNTAN, POLNEP, STAKAT, UPGRI, STT PASTOR BONUS) Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran
strategis bukan hanya dalam dunia akademik, tetapi juga dalam membangun kehidupan sosial yang inklusif dan menghargai keberagaman. Melalui kegiatan ini, para mahasiswa diharapkan semakin terdorong untuk mengenal bahasa daerah, mempelajari kebudayaan yang berbeda, serta membangun persahabatan lintas suku dan latar belakang. Inisiatif ini juga sejalan dengan semangat 100% Katolik, 100% Indonesia, yakni keyakinan bahwa penghayatan iman berjalan bersama dengan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara. Keterlibatan mahasiswa Katolik dalam kegiatan kebangsaan ini menjadi salah satu bentuk partisipasi nyata dalam merawat persatuan Indonesia.
Gereja sebagai Ruang Persaudaraan dan Kebangsaan
Pemilihan Gereja Katolik Ratu Pencinta Damai Pontianak sebagai tempat penyelenggaraan
menegaskan bahwa gereja juga mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat dan bangsa. Gereja tidak hanya menjadi tempat peribadatan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan persaudaraan, memperjuangkan perdamaian, serta membangun solidaritas di tengah keberagaman. Melalui kegiatan ini, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa identitas keagamaan dan identitas kebangsaan dapat berjalan beriringan. Kecintaan terhadap iman tidak bertentangan dengan kecintaan terhadap tanah air. Sebaliknya, iman dapat menjadi dorongan untuk menghormati martabat setiap manusia dan berkontribusi bagi kehidupan bersama.
Rekor MURI sebagai Sarana, Pelestarian Bahasa sebagai Tujuan
Panitia memproyeksikan kegiatan pembacaan Sumpah Pemuda dalam 40 bahasa daerah ini untuk pencatatan rekor MURI. Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas perhatian publik terhadap pentingnya pelestarian bahasa daerah di tengah tantangan globalisasi dan perubahan pola komunikasi generasi muda. Proses pencatatan rekor tetap mengikuti ketentuan administratif dan verifikasi resmi MURI. Dengan demikian, penyebutan kegiatan ini sebagai calon rekor tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa rekor telah disahkan atau dicatat secara resmi. Namun saat ini telah masuk dalam tahap Berita Acara Pencatatan. Dengan syarat dan ketentuan seperti; Melampirkan daftar peserta, melampirkan data Bahasa, melampirkan dokumentasi foto dan video serta berita acara notaris. Bagi panitia, pencatatan rekor bukanlah tujuan akhir. Hal yang lebih penting adalah terciptanya kesadaran kolektif bahwa bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa yang perlu dijaga melalui penggunaan, pembelajaran, dokumentasi, dan pewarisan antargenerasi.
Panitia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni peringatan tahunan, tetapi menjadi inspirasi bagi komunitas mahasiswa, lembaga pendidikan, komunitas budaya, dan masyarakat luas untuk menghadirkan berbagai inisiatif pelestarian bahasa daerah.
Berbeda Bahasa, Satu Indonesia
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Katolik se-Kota Pontianak mengajak generasi muda untuk melihat keberagaman sebagai kekuatan, bukan sebagai alasan untuk terpecah belah.
“Keberhasilan kegiatan ini bukan hanya ketika 45 bahasa daerah dibacakan dalam satu acara, tetapi ketika semakin banyak anak muda bangga menggunakan bahasa daerahnya,
menghormati bahasa daerah orang lain, dan tetap berdiri bersama sebagai satu bangsa.
Berbeda bahasa, beragam budaya, tetapi tetap satu Indonesia,” tutup ketua panitia.Semangat Sumpah Pemuda 1928 diharapkan terus hidup dalam tindakan nyata generasi muda masa kini: menjaga persatuan, merawat kebudayaan, dan mewariskan kekayaan bahasa Indonesia kepada generasi mendatang.












