Berita  

Peduli Kabut Asap, KOPRI PC PMII Ketapang Bagikan Masker kepada Masyarakat

Deskripsi Gambar

KETAPANG – Kepedulian terhadap masyarakat di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ditunjukkan oleh Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PC PMII Kabupaten Ketapang dengan membagikan masker secara gratis kepada masyarakat, Minggu (6/9/2026).

 

Kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan Jalan R. Suprapto, tepatnya di depan halaman Gedung Bintang 9 PCNU Ketapang. Pembagian masker menyasar masyarakat yang melintas, khususnya pengendara dan warga yang beraktivitas di tengah kondisi udara yang terdampak kabut asap.

 

Kegiatan ini mengangkat semangat “Peduli, Melindungi, untuk Sesama” sebagai bentuk kepedulian KOPRI PC PMII Ketapang terhadap kesehatan masyarakat. Masker yang dibagikan diharapkan dapat membantu masyarakat mengurangi paparan langsung terhadap asap dan partikel yang berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan.

 

Ketua KOPRI PC PMII Kabupaten Ketapang, Riska Ardiana Dian Septyani, mengatakan pembagian masker merupakan bentuk kepedulian sederhana yang dapat dilakukan organisasi kepemudaan di tengah kondisi Karhutla yang masih menjadi perhatian serius.

 

“Kami melihat kondisi kabut asap saat ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan dan keselamatan masyarakat. Karena itu, meskipun yang kami lakukan sederhana melalui pembagian masker, kami berharap ini bisa memberikan manfaat dan sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa menjaga kesehatan di tengah kondisi seperti ini sangat penting,” ujar Riska.

 

Kondisi Karhutla di Kabupaten Ketapang sendiri cukup mengkhawatirkan. Pemerintah Kabupaten Ketapang telah menaikkan status penanganan dari siaga menjadi Tanggap Darurat Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan, setelah kebakaran dilaporkan terjadi di 15 dari 20 kecamatan hingga awal September 2026. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Data Dinas Kesehatan yang diberitakan pada 4 September mencatat 803 kasus ISPA yang berkaitan dengan memburuknya kualitas udara, sementara kualitas udara Ketapang sempat mencapai ISPU sekitar 300 atau kategori sangat tidak sehat.

 

Di tingkat Kalimantan Barat, persoalan Karhutla juga masih menjadi perhatian. Kementerian Kehutanan pada 4 September 2026 mencatat tiga perusahaan pemegang PBPH di Kabupaten Ketapang yang arealnya terdampak kebakaran, dengan luas terbakar masing-masing sekitar 1.275,87 hektare, 670,76 hektare, dan 326,93 hektare.

 

Menurut Riska, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan Karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Upaya pencegahan dan kesadaran bersama harus menjadi perhatian seluruh elemen masyarakat.

 

“Karhutla bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas yang berada di lapangan. Pemuda, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah harus bergerak bersama. Pemerintah perlu memperkuat pencegahan dan penanganan, sementara masyarakat juga harus ikut menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran,” jelasnya.

 

Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar. Menurutnya, sekecil apa pun tindakan pencegahan yang dilakukan dapat menjadi bagian dari upaya bersama mengurangi dampak Karhutla.

 

“Harapan kami, pemuda tidak hanya menjadi penonton ketika terjadi bencana, tetapi ikut hadir memberikan kontribusi nyata. Masyarakat juga harus saling mengingatkan, dan pemerintah terus memperkuat langkah pencegahan maupun penanganan. Kita ingin Ketapang terbebas dari kabut asap dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman dan sehat,” pungkas Riska.

 

KOPRI PC PMII Ketapang berharap kegiatan sederhana tersebut dapat menjadi pengingat bahwa persoalan kabut asap merupakan tanggung jawab bersama. Asap boleh mengepul, tetapi kepedulian jangan pernah padam.

seedbacklink