Pontianak – Sebuah kata dapat menyampaikan pesan. Namun, tidak semua pesan lahir dari kata-kata. Tatapan mata, ekspresi wajah, gerak tubuh hingga intonasi suara kerap menyampaikan makna yang tidak kalah penting dari kalimat yang diucapkan.
Pemahaman terhadap komunikasi verbal dan nonverbal tersebut menjadi salah satu materi dalam kegiatan Senior Course yang diselenggarakan Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Pontianak. Selasa, (15/09/2026).
Dalam sesi tersebut, para calon Master of Training (MoT) diajak memahami bahwa kemampuan komunikasi seorang instruktur tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan forum. Lebih dari itu, seorang instruktur dituntut mampu membangun pesan, menyampaikannya secara tepat, serta memastikan pesan tersebut dapat diterima dan dipahami oleh peserta.
Sesi komunikasi menghadirkan Hayatunnur Taqwa sebagai narasumber. Pengalamannya dalam berbagai ruang organisasi di tingkat regional maupun nasional menjadi salah satu perspektif yang dibagikan kepada para peserta.
Ia juga menekankan bahwa komunikasi merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran dan pengkaderan.
“Seorang instruktur tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu membangun komunikasi dengan peserta. Apa yang disampaikan harus bisa diterima, dipahami, dan kemudian menjadi bagian dari proses belajar,” ujarnya.
Dalam materi tersebut, komunikasi verbal dibahas sebagai fondasi dalam menyampaikan gagasan. Pemilihan kata, artikulasi, intonasi, struktur penyampaian hingga kemampuan membangun dialog menjadi aspek penting yang perlu dikuasai seorang instruktur.
Namun, komunikasi tidak berhenti pada kata-kata. Ketika seorang instruktur berbicara, peserta juga menangkap berbagai pesan melalui bahasa tubuh. Kontak mata dapat membantu membangun perhatian, ekspresi wajah dapat memperkuat pesan, sementara gestur dan sikap tubuh dapat memberikan penekanan terhadap materi yang sedang disampaikan.
Karena itu, komunikasi verbal dan nonverbal dipandang sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Keduanya perlu dipadukan agar pesan yang disampaikan seorang instruktur menjadi lebih utuh dan efektif.
Kemudian , Ia juga mengajak para calon MoT untuk melihat komunikasi dari sudut pandang yang lebih luas. Kemampuan seorang instruktur, menurutnya, tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak ia mampu berbicara, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan interaksi dan membuat peserta terlibat dalam proses pembelajaran.
Komunikasi itu bukan hanya soal berbicara. Kita juga perlu melihat bagaimana peserta merespons, bagaimana suasana forum, dan bagaimana pesan yang kita sampaikan dapat membangun interaksi, katanya.
Pengalaman Ayunda di berbagai forum organisasi regional maupun nasional turut memperkaya pembahasan dalam sesi tersebut. Saat ini, Ayunda Hayatunnur Taqwa juga dipercaya sebagai Wakil Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Kalimantan Barat.
Bagi seorang calon Master of Training, kemampuan komunikasi menjadi salah satu instrumen penting dalam menjalankan proses pembelajaran. Seorang instruktur tidak hanya dituntut mampu menyampaikan materi, tetapi juga membangun suasana belajar, menjaga perhatian peserta, menciptakan interaksi, dan memastikan materi dapat diterima dengan baik.
Dalam ruang pelatihan, komunikasi bahkan dapat menentukan bagaimana peserta merasakan proses pembelajaran. Pesan yang disampaikan dengan baik dapat membuka ruang dialog, sementara komunikasi yang dibangun secara interaktif dapat membuat peserta lebih terlibat.
Senior Course BPL HMI Cabang Pontianak menjadi salah satu ruang bagi para calon Master of Training untuk mengasah kemampuan tersebut.
Melalui materi komunikasi verbal dan nonverbal, peserta tidak hanya belajar mengenai teknik berbicara, tetapi juga memahami bahwa seorang instruktur berkomunikasi melalui keseluruhan dirinya—mulai dari kata-kata, intonasi, ekspresi, kontak mata hingga bahasa tubuh.
Pada akhirnya, dalam sebuah ruang pelatihan, yang diingat peserta bukan hanya apa yang dikatakan seorang instruktur, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disampaikan dan bagaimana instruktur mampu membangun ruang belajar yang membuat peserta merasa didengar, dipahami dan dilibatkan.










